Manusia dapat dihancurkan,manusia dapat dimatikan tetapi manusia tidak dapat dimusnahkan selama manusia itu percaya dengan dirinya sendiri (ber-Sh dengan keyakinan dirinya sendiri)
Di siang bolong seorang Darwis masuk-keluar pasar dengan membawa sebuah lilin ditanganya. Ada yang menegur dia, Apa yang sedang engkau cari? Untuk apa pula menyalakan lilin? Tidak cukuplah cahaya matahari?”
Darwis menjawab,”aku sedang mencari seseorang manusia”
Seorang manusia? Pasar ini penuh dengan manusia dimana-mana, siapakah yang kau maksudkan?”
“seorang manusia sejati. Ia yang mampu pertahankan kemanusiaanya dalam dua keadaan.”
Keadaan apa?”
“pertama, dalam keadaan marah, Yang “kedua dalam keadaaan lapar. Bila ada yang mampu mempertahankan kemanusiaanya dalam keadaam itu, maka dialah seorang manusia sejati.”
“engkau sedang mencari sesuatu yang sangat langka, katakana apa yang kan kau lakukan jika bertemu dengan seorang manusia sejati seperti itu?
“aku akan mengabdi kepadanya, seumur hidup, untuk selama-lamanya.”
“sungguh engkau sedang mencari ranting. Kenapa tidak mencari akar? Engkau memperhatikan busa menutupi permukaan laut, kenapa tidak memperhatikan laut.
Cerita diatas adalah kiasan yang diberikan jalaludin rumi dalam karya fenomenalnya, masnawi, jika membaca cerita diatas, paling tidak ada dua makna tersirat yang bisa kita dapatkan.
Pertama, manusia sejati adalah manusia yang dapat mengendalikan diri saat marah dan lapar. Bagi rumi, saat mengalami dua hal itulah, manusia terkadang kehilangan kesadaranya. Ketika dilanda marah, biasanya manusia kan membabi buta baik perkataanya maupun perbuatanya. Kata-kata orang marah biasnya ngelantur kesana-kemari, caci maki, hinaan, ejekan, sumpah serapah, merendahkan orang, dan yang sejenisnya yang keluar tanpa control.
Kedua, kita harus menjadi pelaku atas manusia sejati, kita tidak perlu mencari manusia sejati, tetapi kita jadikan diri kita sebagai manusia sejati, rumi mengatakan di akhir ceritanya,”sungguh engkau sedang mencari ranting. Kenapa tidak mencari akar? Engkau memperhatikan busa yang menutupi permukaan laut, kenapa tidak memperhatikan laut?”
kami merupakan suatu perubahan yang positif yang mau menerima saran dan kritik yang positif yang bersifat membangun menuju pencapaian yang sempurna,dengan dilambari ketulusan dan keihklasan.
pipi............cayang.........
BalasHapusby,mimi manis................
sebuah kisah semoga mengispirasimu…
BalasHapusDi siang bolong seorang Darwis masuk-keluar pasar dengan membawa sebuah lilin ditanganya. Ada yang menegur dia, Apa yang sedang engkau cari? Untuk apa pula menyalakan lilin? Tidak cukuplah cahaya matahari?”
Darwis menjawab,”aku sedang mencari seseorang manusia”
Seorang manusia? Pasar ini penuh dengan manusia dimana-mana, siapakah yang kau maksudkan?”
“seorang manusia sejati. Ia yang mampu pertahankan kemanusiaanya dalam dua keadaan.”
Keadaan apa?”
“pertama, dalam keadaan marah, Yang “kedua dalam keadaaan lapar. Bila ada yang mampu mempertahankan kemanusiaanya dalam keadaam itu, maka dialah seorang manusia sejati.”
“engkau sedang mencari sesuatu yang sangat langka, katakana apa yang kan kau lakukan jika bertemu dengan seorang manusia sejati seperti itu?
“aku akan mengabdi kepadanya, seumur hidup, untuk selama-lamanya.”
“sungguh engkau sedang mencari ranting. Kenapa tidak mencari akar? Engkau memperhatikan busa menutupi permukaan laut, kenapa tidak memperhatikan laut.
Cerita diatas adalah kiasan yang diberikan jalaludin rumi dalam karya fenomenalnya, masnawi, jika membaca cerita diatas, paling tidak ada dua makna tersirat yang bisa kita dapatkan.
Pertama, manusia sejati adalah manusia yang dapat mengendalikan diri saat marah dan lapar. Bagi rumi, saat mengalami dua hal itulah, manusia terkadang kehilangan kesadaranya. Ketika dilanda marah, biasanya manusia kan membabi buta baik perkataanya maupun perbuatanya. Kata-kata orang marah biasnya ngelantur kesana-kemari, caci maki, hinaan, ejekan, sumpah serapah, merendahkan orang, dan yang sejenisnya yang keluar tanpa control.
Kedua, kita harus menjadi pelaku atas manusia sejati, kita tidak perlu mencari manusia sejati, tetapi kita jadikan diri kita sebagai manusia sejati, rumi mengatakan di akhir ceritanya,”sungguh engkau sedang mencari ranting. Kenapa tidak mencari akar? Engkau memperhatikan busa yang menutupi permukaan laut, kenapa tidak memperhatikan laut?”